Zahid, seorang pemuda sholeh di Kota kufah. Dia dikenal sebagai pemuda yang paling tampan dan paling mencintai masjid di Kota Kufah. Sebagian besar waktunya dihabiskan didalam masjid untuk beribadah dan menuntut ilmu pada ulama terkemuka dikotanya.
Sementara itu , dipinggir kota terlihat seorang putri cantik sedang menari-nari dan mendendangkan syair-syair cinta. Ia adalah Afirah, anak seorang saudagar kaya yang mempunyai kebun kurma yang luas dan hewan ternak yang tak terhitung jumlahnya.
Ayah Afirah, Abu Afirah menjodohkannya dengan anak Abu Yasir yang bernama Yasir. Yasir dikenal sebagai pemuda yang tidak baik. Ia senang berkumpul dengan teman-temannya dan bersenang-senang dengan penari-penari cantik serta menikmati minuman arak.
Pada suatau hari seusai sholat duha, Zahid pergi meninggalkan masjid untuk menjenguk saudaranya yang sedang sakit. Ia melewati kebun kurma milik Abu Afirah. Dari kejauhan Zahid melihat seseorang sedang menunggang kuda dan terdengar teriakan seorang wanita meminta tolong. Zahid menghampiri sumber suara tersebut, ternyata wanita tersebut adalah afirah yang tidak bisa menghentikan kuda yang ditungganginya. Dengan menyebut Asma Allah, Zahid menghentikan kuda tersebut. Seketika kuda itu berhenti dan Afirah jatuh terpental dari atas kuda. Setelah Afirah bangkit, mereka saling beradu pandang. Zahid yang kagum dengan kecantikan Afirah dan begitu juga Afirah yang kagum dengan ketampanan Zahid. Setelah beberapa saat mereka saling memperkenalkan diri dan Afirah memberikan sehelai sapu tangan pada Zahid.
Pada malam hari harinya, Afirah termenung dikamrnya sambil memikirkan pertemuannya dengan Zahid tadi pagi, tak sedetik pun bayangan Zahid menghilang dari pikirannya. Begitu juga dengan Zahid, Ia tak sekusyu’ biasanya. Di setiap kegiaan yang ia lakukan, terlintas bayangan Afirah dalam pikirannya.
Keesokan harinya, Zahid bertekad pergi untuk melamar Afirah. Setelah ia sampai di rumah Afirah, ia mengutarakan maksud kedatangannya kepada Abu Afirah. Afirah yang mendengarkan dibalik tirai ruang tamunya berharap ayahnya menerima lamaran Zahid. Ia berharap ayahnya menerima lamaran Zahid untuknya. Tetapi jawaban ayahnya tidak sesuai dengan apa yang diharapkan. Ayahnya menolak karena Abu Afirah sudah terlebih dulu menerima lamaran Abu Yasir.
Zahid dan Afirah mengalami kekecewaan yang sama. Mereka jatuh sakit setelah lamaran Zahid untuk Afirah ditolak Abu Afirah. Dengan bantuan pembantu kepercayaanya, Afirah mengirim surat kepada Zahid yang isinya mengajak Zahid untuk meng ambil jalan pintas agar mereka tetap bisa mewujudkan cinta mereka. Tetapi Zahid menolak ajakan Afirah. Zahid membalas surat Afirah dengan menyertakan surban agar bisa digunakan untuk Afirah beribadah dan berdo’a kepada Allah SWT supaya mereka berdua mendapatkan jalan yang terbaik.
Setelah Afirah mendapat balasan surat dari Zahid, ia mulai sadar. Sejak itu ia menanggalkan semua gaya hidupnya yang glamor. Ia berpaling dari dunia dan menghadapkan wajahnya sepenuhnya untuk akhirat. Sorban putih pemberian Zahid ia jadikan sajadah, tempat dimana ia bersujud, dan menangis di tengah malam memohon ampunan
dan rahmat Allah SWT. Siang ia puasa malam ia habiskan dengan bermunajat pada Tuhannya. Diatas sajadah putih ia menemukan cinta yang lebih agung dan lebih indah, yaitu cinta kepada Allah SWT. Hal yang sama juga dilakukan Zahid di masjid Kufah. Keduanya benar-benar larut dalam samudera cinta kepada Allah SWT.
Allah Maha Rahman dan Rahim. Beberapa bulan kemudian Zahid menerima sepucuk surat dari Afirah yang memberitahukan kepada Zahid bahwa perjodohan Afirah dengan Yasir dibatalkan oleh Ayahnya karena sang Ayah telah mengetahui sifat-sifat buruk Yasir. Afirah meminta kepada Zahid untuk segera datang dan meminang Afirah sesuai sunnah Rasul. Seketika itu Zahid sujud syukur di mihrab masjid Kufah. Bunga-bunga cinta bermekaran dalam hatinya. Tiada henti bibirnya mengucapkan hamdalah.
dikutip dari : www.rajaebookgratis.com

Tidak ada komentar:
Posting Komentar